Tampilkan postingan dengan label cara bertani padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara bertani padi. Tampilkan semua postingan

PETANI MENILAI,SOAL HPP BARU GABAH DAN BERAS :Masih Kurang,Belum Menjamin

Senin, 07 Maret 2011 | komentar

Magelang-Petani Magelang dan Temanggung menilai, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras yang ditetapkan pemerintah dan mulai efektif 1 Januari 2009, masih kurang dan belum bisa mendongkrak dan meningkatkan kesejahteraan petani. Pasalnya, masih belum menutup biaya produksi dan permainan pasar yang terkadang tidak rasional.

Menurut Ahmad (45) petani dari Desa Windusari Kecamatan Windusari Magelang, biaya produksi gabah saat ini rata-rata perkilogramnya berkisar Rp 2.600. Biaya tersebut meliputi antara lain benih, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja pengolahan tanah. Biaya proses pemeliharaan tiap hari belum termasuk di dalamnya.

Proses pemeliharaan itu, terangnya seperti melancarkan irigasi disaat terkena krisis air, menambal serta memperbaiki pematang sawah yang rusak, dan menyiangi tanaman padi dari rumput liar. “ HPP gabah kering panen yang sebesar Rp 2. 400 per kilogram jelas belum menutup biaya produksi, “ tegasnya, ditemui saat memanen padi disebuah persawahan.

Romadhon (37), petani lainnya, mengungkapkan HPP gabah kering giling yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 3.000 per kilogram dan HPP beras di Bulog Rp 4.600, juga belum dapat menutup ongkos seperti untuk proses pengeringan, transportasi dan penggilingan menjadi beras. “ Bagi petani idealnya HPP GKP Rp 3.400 per kilogram dan HPP beras Rp 5.000,” katanya.


Disampaikan, banyak petani yang tidak punya akses ke Bulog, sehingga menjualnya ke pedagang gabah di pedesaan, yang tentu harganya jauh dari HPP, harga gabah kering panen misalnya berkisar Rp 2.200 hingga Rp 2.300 per kilogram. Gabah siap giling Rp 2.500 per kilogram dan beras Rp 2.400 per kilogram. KR-

Enaknya Jadi Petani

Minggu, 16 Januari 2011 | komentar

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al- Anshariyah di kebun kurma miliknya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah dia seorang muslim atau kafir?” Dia menjawab, “Seorang Muslim.” Maka beliau bersabda:
لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman apapun atau bertani dengan tumbuhan apapun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, atau binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan berniali sedekah untuknya.” (HR. Muslim no. 1552)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim bercocok tanam dengan tanaman apapun kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya. Apa saja yang dicuri orang darinya (tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang liar (dari tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah seseorang mengambil darinya melainkah itu juga akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim no. 1552)

Penjelasan ringkas:

Di antara rahmat Allah Ta’ala adalah Dia menjanjikan banyak pahala pada berbagai bentuk amalan kebaikan walaupun yang sifatnya rendah di mata kebanyakan manusia. Allah tidak menjadikan pahala sedekah hanya untuk orang-orang yang kaya, akan tetapi juga menyediakan jalan-jalan sedekah bagi mereka yang biasanya miskin, seperti para petani. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam.

Lihatlah bagaimana setiap petani -dengan syarat jika dia seorang muslim- bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak dari siapa saja yang makan dari hasil pertaniannya, baik itu manusia maupun binatang, baik itu atas seizinnya maupun diambil tanpa seizinnya (dicuri). Ini memperkuat sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Berbuat baik kepada setiap makhluk hidup adalah berpahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jika hasil tanamannya dimakan oleh orang lain melalui jalur jual beli, apakah petani tersebut tetap mendapatkan pahala?

Wallahu a’lam, lahiriah haditsnya bermakna umum. Dia mendapatkan pahala dari setiap makhluk yang memakan hasil pertaniannya baik dia berikan secara gratis maupun dia jual kepada orang lain.

cara menanam padi

Kamis, 23 Desember 2010 | komentar (1)

Indonesia terkenal dengan negara agraris dimana penduduknya sebagian besar hidupnya dari hasil pertanian, proses penanaman padi pada masyarakat pertanian selalu pada daerah datar pesawahan yang membentang dari ujung keujung atau lahan pertaniannya berbentuk terasering dengan pengairan dan irigasi yang sangat baik, pemupukan yang sangat modern serta penanaman dan panennya bisa tiga kali dalam satu tahun dikarenakan kecanggihan teknologi. Bagi masyarakat Baduy menanam pada hanya satu kali dalam satu tahun secara otomatis panennyapun hanya hanya satu kali. Masyarakat Baduy biasa menanam padi pada saat menjelang musim penghujan tiba, dan apa yang unik dari pertanian di Baduy khususnya padi. Masyarakat Baduy menanam padi ( Huma ) pada daerah dan tempat-tempat yang berbukit dan terjal, tanpa pengairan, pupuk, alat modern atau dengan kata lain tanpa teknologi tepat guna. Lalu bagaimana proses masyarakat menanam padinya?

Dari hasil wawancara yang penulis lakukan dengan salah seorang warga Baduy yang bernama Mang Arji juga sekaligus guide untuk para tamu, beliau memberikan informasi sebagai berikut, “ Bahwa masyarakat Baduy dalam menanam padi melalui tahap-tahap seperti di bawah ini :

1. nyacar

Atau memotong semua tanaman dan rerumputan serta pepohonan kecil yang berupa semak belukar dengan menggunakan sebilah sabit, pada tahap ini para petani huma membabat habis semua semak belukar yang diperkirakan akan mengganggu tumbuhnya tanaman padi, sehingga padi akan tumbuh dengan baik.

2. nutuhan

adalah memotong dahan-dahan pepohonan yang dapat mengganggu dan menghalangi sinar matahari dalam proses fotosintesa dan proses penyinaran sempurna terhadap tanaman utama maupun tanaman penyela.

3. ngaduruk

Merupakan kegiatan membakar semak belukar, ranting dan dahan yang telah dipangkas habis pada kegiatan sebelumnya, dan hasil proses pembakaran ini dijadikan sebagai penyubur tanaman atau pupuk.

4.nyasap/sasap

Kegiatan para petani huma untuk membersihkan rerumputan yang baru tumbuh, dan rerumputan yang telah dibersihkan tersebut dibiarkan hingga membusuk yang selanjutnya dapat pula dijadikan penyubur tanaman/pupuk.

5. ngaseuk

Dilakukan dengan menggunakan sebatang kayu sebesar kepalan jari tangan yang diruncingkan pada bagian ujung kayu tersebut dan dipergunakan untuk membuat lubang tempat menyimpan biji/bibit padi secara beraturan dan dengan pentaan yang rapi sehingga kelihatan indah dipandang mata.

6. ngored

Kegiatan membersihkan rerumputan yang tumbuh diantara tanaman padi pada saat usia padi diperkirakan 2-3 minggu, sebab apabila ngored tidak dilakukan maka kemungkinan besar sari makanan yang seharusnya untuk padi, dihisap oleh tanaman hama atau rerumputan tersebut, yang pada akhirnya pertumbuhan padi tidak sempurna karena banyaknya tanaman pengganggu/hama.

7. mulihan

Merupakan kegiatan membersihkan rerumputan tahap ke dua setelah usia padi sekitar 3 bulan, hal ini dilakukan untuk mengontrol pertumbuhan padi dan juga merawat pertumbuhannya, jangan sampai ada tanaman padi yang kurang bagus pertumbuhannya.

8. ngala pare/panen

Pada tahap berikutnya sekitar usia padi 7 bulan, maka para petani secara bersama-sama melakukan panen atau menuai padi dengan menggunakan pisau etem dan tanaman padi sisa panen biasanya diinjak agar terlihat padi yang mana yang belum diambil.

9. moe pare

Padi yang telah dituai selanjutnya dijemur di pematang huma diatas sebatang bambu yang dibentangkan hingga padi-padi tersebut kering serta siap untuk ditumbuk atau dimasukan keleuit/lumbung padi.

11. mawa pare ka leuit

Padi yang telah dijemur di pematang huma hingga kering tersebut kemudian dibawa dan disimpan di leuit yang selanjutnya siap dikonsumsi baik dijual maupun dimakan.

12. jami huma

adalah kegiatan akhir proses penanaman padi huma/padi tadah hujan, karena untuk mengairi humanya masyarakat Baduy hanya mengandalkan turunnya hujan. Kegiatan jami huma ini adalah kegiatan terakhir dan kegiatan awal untuk memulai apabila akan datangnya musim hujan.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PETANI INDONESIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger