
Indonesia terkenal dengan negara agraris dimana penduduknya sebagian besar hidupnya dari hasil pertanian, proses penanaman padi pada masyarakat pertanian selalu pada daerah datar pesawahan yang membentang dari ujung keujung atau lahan pertaniannya berbentuk terasering dengan pengairan dan irigasi yang sangat baik, pemupukan yang sangat modern serta penanaman dan panennya bisa tiga kali dalam satu tahun dikarenakan kecanggihan teknologi. Bagi masyarakat Baduy menanam pada hanya satu kali dalam satu tahun secara otomatis panennyapun hanya hanya satu kali. Masyarakat Baduy biasa menanam padi pada saat menjelang musim penghujan tiba, dan apa yang unik dari pertanian di Baduy khususnya padi. Masyarakat Baduy menanam padi ( Huma ) pada daerah dan tempat-tempat yang berbukit dan terjal, tanpa pengairan, pupuk, alat modern atau dengan kata lain tanpa teknologi tepat guna. Lalu bagaimana proses masyarakat menanam padinya?
Dari hasil wawancara yang penulis lakukan dengan salah seorang warga Baduy yang bernama Mang Arji juga sekaligus guide untuk para tamu, beliau memberikan informasi sebagai berikut, “ Bahwa masyarakat Baduy dalam menanam padi melalui tahap-tahap seperti di bawah ini :
1. nyacar
Atau memotong semua tanaman dan rerumputan serta pepohonan kecil yang berupa semak belukar dengan menggunakan sebilah sabit, pada tahap ini para petani huma membabat habis semua semak belukar yang diperkirakan akan mengganggu tumbuhnya tanaman padi, sehingga padi akan tumbuh dengan baik.
2. nutuhan
adalah memotong dahan-dahan pepohonan yang dapat mengganggu dan menghalangi sinar matahari dalam proses fotosintesa dan proses penyinaran sempurna terhadap tanaman utama maupun tanaman penyela.
3. ngaduruk
Merupakan kegiatan membakar semak belukar, ranting dan dahan yang telah dipangkas habis pada kegiatan sebelumnya, dan hasil proses pembakaran ini dijadikan sebagai penyubur tanaman atau pupuk.
4.nyasap/sasap
Kegiatan para petani huma untuk membersihkan rerumputan yang baru tumbuh, dan rerumputan yang telah dibersihkan tersebut dibiarkan hingga membusuk yang selanjutnya dapat pula dijadikan penyubur tanaman/pupuk.
5. ngaseuk
Dilakukan dengan menggunakan sebatang kayu sebesar kepalan jari tangan yang diruncingkan pada bagian ujung kayu tersebut dan dipergunakan untuk membuat lubang tempat menyimpan biji/bibit padi secara beraturan dan dengan pentaan yang rapi sehingga kelihatan indah dipandang mata.
6. ngored
Kegiatan membersihkan rerumputan yang tumbuh diantara tanaman padi pada saat usia padi diperkirakan 2-3 minggu, sebab apabila ngored tidak dilakukan maka kemungkinan besar sari makanan yang seharusnya untuk padi, dihisap oleh tanaman hama atau rerumputan tersebut, yang pada akhirnya pertumbuhan padi tidak sempurna karena banyaknya tanaman pengganggu/hama.
7. mulihan
Merupakan kegiatan membersihkan rerumputan tahap ke dua setelah usia padi sekitar 3 bulan, hal ini dilakukan untuk mengontrol pertumbuhan padi dan juga merawat pertumbuhannya, jangan sampai ada tanaman padi yang kurang bagus pertumbuhannya.
8. ngala pare/panen
Pada tahap berikutnya sekitar usia padi 7 bulan, maka para petani secara bersama-sama melakukan panen atau menuai padi dengan menggunakan pisau etem dan tanaman padi sisa panen biasanya diinjak agar terlihat padi yang mana yang belum diambil.
9. moe pare
Padi yang telah dituai selanjutnya dijemur di pematang huma diatas sebatang bambu yang dibentangkan hingga padi-padi tersebut kering serta siap untuk ditumbuk atau dimasukan keleuit/lumbung padi.
11. mawa pare ka leuit
Padi yang telah dijemur di pematang huma hingga kering tersebut kemudian dibawa dan disimpan di leuit yang selanjutnya siap dikonsumsi baik dijual maupun dimakan.
12. jami huma
adalah kegiatan akhir proses penanaman padi huma/padi tadah hujan, karena untuk mengairi humanya masyarakat Baduy hanya mengandalkan turunnya hujan. Kegiatan jami huma ini adalah kegiatan terakhir dan kegiatan awal untuk memulai apabila akan datangnya musim hujan.