Daging dan Buah Brasil Siap Ramaikan Indonesia

Selasa, 08 Maret 2011 | komentar

Brasil siap untuk memperluas bisnisnya di Indonesia. Tak hanya daging, perdagangan kedua negara akan diperluas ke produk peternakan dan buah-buahan.
“Kita berharap agar daging, hasil peternakan dan produk buah-buahan dimungkinkan masuk ke Indonesia. Sedangkan Indonesia akan dapat kerja sama di bidang kedelai, palm oil, buah tropis dari Indonesia masuk ke Brasil,” kata Direktur The Trade Promotion of Agribusiness, Brasil, Eduardo Sampaio Marques, kepada wartawan di Hotel Grand Melia, Jakarta, Selasa (5/5).
Kerja sama ini akan dibicarakan pada pertemuan Brasil-Indonesia Consultative Committee on Agriculture (CCA) di Mataram. “Acara ini bertujuan mengusulkan perubahan aturan di Indonesia,” ujar Eduardo.
Dalam pertemuan tersebut, lanjut Eduardo, selama ini komoditas ekspor dari Brasil ke Indonesia hanya meliputi soybean meal, kapas, kulit sapi dan tembakau. Adapun nilai ekspor agribisnis Brasil ke Indonesia pada tahun 2008 mencapai US$ 402,3 juta. Sementara itu, nilai impor Brasil dari Indonesia untuk sektor agribisnis sepanjang 2008 mencapai US$ 250,4 juta. “Dari Indonesia, Brasil mengimpor beberapa komoditas seperti palm oil dan karet,” jelasnya.
Brasil merupakan produsen dan eksportir besar produk agribisnis, menyediakan makanan dan non- makanan ke lebih dari 200 pasar di seluruh dunia. “Kami mengekspor hampir ke seluruh dunia, ekspor paling besar ke Uni Eropa, China dan negara Asia lainnya,” ungkapnya.
Selama ini kata dia, kedelai, gula, kopi, daging, pertenakan, orange juice beku dan tembakau merupakan komoditas ekspor unggulan Brasil. Hal ini menunjukkan kekuatan kompetitif komoditas tersebut dalam bidang kesehatan, kualitas dan harga.
Menanggapi hal itu, pedagang buah di Sumut masih memiliki harapan kalau yang mereka jual adalah buah lokal. Para pedagang mengaku, saat ini mendapatkan produk lokal terasa sulit, seperti salak, apel, bahkan jeruk. Kalaupun ada kondisinya kalah jauh dengan produk impor selama ini yang banyak datang dari China.
“Buah dari China sudah banyak dijual di pasar sekarang. Kalau ada juga dari Brasil berarti semakin banyak buah impor. Kami kasihan saja lihat petaninya, bagi kami tidak masalah,” kata pedagang buah, S Sembiring, kepada MedanBisnis, Selasa (5/5) di Pusat Pasar Medan.
Sembiring mengakui buah-buhan impor lebih laris di pasar tardisional. Seperti jeruk, masyarakat lebih memilih jeruk lokam daripada jeruk lokal. Sama halnya dengan apel dan salak. Bahkan, salak asal Tapsel yang terkenal itu saat ini juga sulit didapat. Dan, itu sudah berlangsung dua tahun belakangan. Yang dijual para pedagang sekarang adalah buah salak dari Jawa.
“Di Sumut juga ada salak pondoh, tapi salak pondoh yang dijual saat ini banyak dari Jawa,” sebutnya.
Pedagang buah lainnya, Dina yang juga berjualan di Pusat Pasar mengatakan keunggulan produk impor yakni dari kondisi buahnya. “Lihat saja, warnanya lebih menarik. Buah jeruk misalnya mereka bisa membuat warna orange-nya merata.
Begitupula apel. Itu merupakan salah satu pemikatnya. Soal rasa, itu ditanya saja sama penikmatnya,” jelas Dina yang menjual buah impor.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PETANI INDONESIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger