demam berdarah

Kamis, 23 Desember 2010 | komentar


JOMBANG – Menyusul kian merebaknya wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Jombang membuat Pemkab setempat kalangkabut. Sayangnya, gencarnya serangan nyamuk Aides Aigepty yang belakangan ini membawa kematian para penderitanya tak diikuti kecepatan Pemkab setempat melakukan pengendalian. Tak urung hal tersebut memaksa Pemkab Jombang melakukan aksi fogging massal di sejumlah desa endemis di Kabupaten Jombang.


Kabupaten Jombang yang dinyatakan sebagai daerah rawan DBD dan masuk katagori Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD, tercatat penderita DBD yang dirawat di RSD Jombang selama rentang hampir dua bulan ini termasuk tinggi. Belum lagi, catatan merah tentang tingginya kasus pasien DBD yang tak terselamatkan juga terus meroket.


Data terakhir yang sempat didapat Mojokerto Pagi menyebut, angka pasien yang meninggal dunia sejak awal tahun ini hingga memasuki pertengahan Februari 2008 sudah mencapai 19 orang. Parahnya, para penderita yang tak terselamatkan jiwanya itu rata-rata adalah pasien usia anak-anak.


Bukan tidak mungkin, angka tersebut akan terus menggunung jika instansi terkait tidak segera melakukan penanganan tepat. Sebab, data terakhir dari penderita DBD meninggal dunia Rabu lalu dialami oleh seorang bocah berusia 3,5 tahun, Muhammad Afan Zunuzul Ahma, asal Desa Mancar, Kecamatan Peterongan Jombang, anak dari pasangan Sugeng Arifin (37) – Maria Ulfa (30).


Dengan munculnya beberapa kasus DBD tersebut, akhirnya upaya pengasapanpun dilakukan. Dari pantauan harian ini, pengasapan yang dilakukan Pemkab untuk mengendalikan wabah DBD terlihat baru dilaksanakan di 5 desa di wilayah Kecamatan Jombang. Desa-desa tersebut diantaranya, Kepatihan, Sumberjo, Mojongapit, Candi Mulyo dan Desa Jombang. Disamping itu, juga dilakukan pemantauan keberadaan jentik-jentik nyamuk loreng oleh para Juru Pemantau Jentik (jumatik) Kabupaten.


Ditemui di lokasi pengasapan, salah seorang Kepala Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang, Joko mengatakan, bahwa di desanya terbilang banyak penderita DBD. Untungnya, menurut Joko, warga di desanya tidak sampai ngamar di rumah sakit dan tidak ada yang meninggal dunia karena DBD.


“Kita memang sengaja meminta untuk dilakukan penyemprotan demam berdarah, karena saya tidak ingin warga saya jadi korban seperti di tempat lainnya,” tuturnya kemarin.


Dikatakan Joko, pada saat yang sama, fogging dan pantauan jentik oleh Jumantik tersebut dilaksanakan di tiap-tiap rumah warga. Ia berharap, jentik-jentik nyamuk Aides Aigepty yang bersarang di wilayahnya dapat sirna dan masyarakat tidak merasa resah lagi.


“Meskipun tidak dapat menghilangkan secara keseluruhan, tapi paling tidak upaya penanggulangan DBD melalui penyemprotan ini bisa mengurangi wabah DBD yang ada,” sambung Iwan Prakosa, Ketua BPD desa setempat menyimpulkan.


Sementara Wabup Jombang, Ali Fikri yang diketahui turun langsung ke lokasi fogging tetap meminta agar instansi terkait dapat memaksimalkan upaya penanganan DBD secara terus-menerus. Pihaknya, tidak ingin penderita DBD di Kabupaten Jombang terus bertambah hingga berujung ke kematian.


“Pokoknya saya minta ditangani cepat ! Kalau untuk bencana semacam DBD, dana sudah kita siapkan. Ojok lambat sampek ngenteni sing loro gak onok (jangan lambat hingga penderita meninggal dunia, red),” ketusnya didampingi Ketua Jumantik Kabupaten, Hj. Wiwik Suyanto. abd
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PETANI INDONESIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger