Pedaging Kelinci Lembang

Sabtu, 27 November 2010 | komentar


Bandung - Tak terasa perjalanan penulis menjadi peternak kelinci di Lembang memasuki usia 19 tahun. Hari demi hari berjalan. Orang-orang dari luar Lembang yang tertarik pada ternak kelinci, seringkali terkagum-kagum dengan banyaknya peternak kelinci di Lembang. Ini sesuatu yang membanggakan karena ternyata Kelinci Lembang memberikan banyak inspirasi usaha bagi masyarakat luas, bahkan sampai ke luar negeri.

Tetapi jangan sampai kebanggaan itu membuat kita terlena. Apakah dengan kemajuan itu para peternak sudah meraih hasil dari usahanya? Dari sekitar 800 peternak di kawasan Kecamatan Lembang dan Parongpong, berapakah yang benar-benar sukses berwirausaha? Jangan-jangan mereka bertahan usaha hanya sekedar bertahan karena tidak ada pekerjaan lain.

Ketimpangan harga
Benar bahwa kelinci sudah memberi bukti sebagai hewan penghasil daging berkualitas, dibanding daging sapi atau domba. Bahkan dalam hitungan setahun, kemampuan menghasilkan dagingnya pun lebih lebih dibanding sapi. Riset Balitnak pada 2005 misalnya, menyebutkan usaha kelinci berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan, sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun akan menghasilkan Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan.

Dengan harga minimal ini, peternakan kelinci masih bisa untung, sekalipun sangat sedikit. Namun justru di sinilah masalahnya. Harga rendah ini kemudian mengalihkan banyak peternak kelinci pedaging beralih ke kelinci jenis hias.

Lembang dulu kala dikenal sebagai penghasil daging kelinci, bukan kelinci hias seperti sekarang. Tetapi karena pangsa pasar wisata dan petshop Jakarta juga tertarik dengan kelinci hias, sebagian memilih hias.

Selain itu peternak juga merasakan lebih untung memilih jenis hias, karena harganya berlipat ketimbang kelinci penghasil daging. Satu ekor kelinci hias, anakan umur 1 bulan dijual ke para Bandar dengan harga Rp 10-25 ribu per ekor. Sedangkan kelinci pedaging hanya dihargai Rp 20-25 per ekor untuk umur 4 bulan.

Kenapa harga kelinci hias membumbung tinggi sementara kelinci pedaging anjlog? Bukankah di luar negeri daging kelinci mendapat kemuliaan harga di pasar?

Malaysia katakanlah menghargai daging kelinci per Kg mencapai Rp 125 per Kg. Sedangkan Arab Saudi kira-kira Rp 175-225 ribu per Kg. Sedangkan di Indonesia? Paling banter hanya Rp 25 ribu per Kg.

Warung-warung sate yang berada di kawasan Lembang sampai Tangkuban Perahu memang terus laris. Ada lebih 80 warung sate kelinci dari tiga golongan, kecil atau warung sate mini, golongan menengah atau warung sate kelas rumahan dan golongan elit atau warung sate sekelas restoran.

Setiap hari, terutama sabtu dan minggu tak ada warung sate yang sepi. Masing-masing memiliki konsumen yang sangat bagus. Harga sate kelinci per porsi (termasuk nasi) mencapai Rp 15.000.

Untuk memenuhi target penjualan 15 porsi (150 tusuk) seorang pedagang sate hanya butuh Rp 20-30 ribu atau sate ekor kelinci. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang penjual sate akan mendapatkan uang Rp 225.000 dipotong nasi (-+ Rp 25.000 dan bumbu Rp 15.000).

Pedagang sate kecil yang mampu menjual rata-rata 15 porsi saja keuntungannya sudah sangat besar. Warung sate kelas menengah dalam sehari rata-rata mampu menjual 30-40 porsi, sedangkan kelas restoran mampu menjual antara 100-160 porsi per hari.

Tetapi jujur, harus kita akui kenyataan itu tidak sehat. Pasalnya harga daging dari peternak sangat rendah, yakni Rp 15-30 per ekor. Padahal satu ekor kelinci mampu menghasilkan antara 25-35 porsi sate.

Harga ini sangat jauh dari standar dan menimbulkan rasa frustasi peternak kelinci pedaging karena mereka membutuhkan waktu lama, yakni 3-4 bulan masa penjualan. Berbeda jauh dengan harga kelinci hias. Serendah-rendahnya kelinci hias, yakni Rp 10 ribu, tetap lebih menghasilkan karena bisa dijual dalam masa 1,5 bulan.

Inilah ketimpangan pasar yang tidak terkendali dan membuat para peternak kelinci terpaksa memilih ternak kelinci hias yang asas manfaatnya hanya untuk kesenangan semata, bukan untuk penghasil gizi berkualitas di masyarakat.

Menurut hemat saya, harga kelinci pedaging yang layak minimal Rp 25-28 ribu per Kg. Dengan begitu rata-rata per ekor kelinci siap potong (umur 4 bulan) yang mampu menghasilkan 2 Kg itu dihargai minimal Rp 62-80ribu per ekor.

Dengan harga ini saja, pedagang sate kelinci masih tetap memiliki keuntungan tinggi karena setiap ekor kelinci akan menghasilkan uang minimal Rp 225 ribu dan tambahan uang dari penjualan kulit kelinci yang bisa dijual Rp 5-15 ribu.

Kita senang setiap orang bisa kaya, tetapi kalau satu kelompok bisa kaya sedangkan kelompok lainnya bangkrut, secara otomatis akan menjadi bumerang bagi semua. Gejala ini sebenarnya sudah nampak akhir-akhir ini.

Para penjual sate sudah kelimpungan kesulitan mencari kelinci potong karena para peternak sudah malas beternak kelinci pedaging. Fatalnya lagi, kalau kemudian pasar kelinci hias yang labil itu pada akhirnya merosot. Bisa jadi setelah para peternak beralih dari pedaging ke hias, mereka akan gulung tikar.

Ini sangat berbahaya. Bisnis yang serba mengandalkan tingginya keuntungan tanpa memperhatikan sisi produksi, hanya akan mengakibatkan kesulitan usaha. Karena itu secepatnya para peternak kelinci harus menyatu untuk membuat posisi tawar harga daging kelinci. Para pedagang sate atau produsen daging kelinci lainnya pun mestinya menyadari situasi ini.

Pengirim: Asep Sutisna (Ketua Paguyuban Peternak Kelinci Lembang Bandung Barat).
Email: aseprabbit@gmail.com
Alamat: Jl Raya Bandung-Lembang No 119 Lembang Bandung Barat
No tlp: 0817217***(gst/gst)
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PETANI INDONESIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger